“Heading to the Top” dan Rahasia Socrates
Oleh : A. R. Loebis

Jakarta, 06 Maret 2014 – Apa hubungan “Heading to the Top” dengan filsuf Yunani Socrates yang hidup di jaman baheula (477-399 SM)?

“Heading to the Top” adalah motto Sean Gelael dalam menekuni musim kedua perlombaan FIA F3 Eropa 2014 dan pemuda Indonesia berusia 17 tahun itu pasti sudah tidak sabar untuk mengawali perlombaan pertamanya di Silverstone pada April mendatang. 

Bagaimana Sean mewujudkan impiannya untuk menggebrak ke depan atau naik ke atas – sesuai dengan motto yang merupakan falsafahnya - pada perlombaan mendatang?

Mari kita simak sesaat uraian di bawah ini: 

Suatu ketika seorang pemuda bertanya pada Socratestentang keberhasilan. Socrates mengatakan pada si anak muda, bila ia ingin mengetahui rahasia sukses, ia harus datang menemuinya esok pagi di dekat sungai.  

Keesokan paginya si anak muda datang ke sungai dan menemui Socrates yang sudah menunggunya. Mereka berdua melangkah masuk kedalam sungai. Saat air sungai setinggi dada, tiba-tiba Socrates membenamkan kepala pemuda itu kedalam sungai. 

Pemuda itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun Socrates terlalu kuat baginya. Socrates terus membenamkan kepala si pemuda. Saat hampir lemas, ditariknya kepala pemuda itu ke atas. Hal pertama yang dilakukan pemuda itu adalah menghirup udara dengan dengan menarik nafas  sangat panjang.

Sebelum pemuda itu sempat berkata-kata, Socrates bertanya, "Apa yang paling kau inginkan saat keluar dari air ?" Terengah-engah si pemuda menjawab, "Menghirup udara". Sambil tersenyum Socrates menjawab, "Itulah rahasia sukses ! ketika engkau menginginkan keberhasilan seperti mendapatkan udara maka engkau akan berusaha keras mendapatkan dan pasti engkau dapatkan, sesungguhnya tidak ada rahasia lain". 

Apa arti dan makna uraian di atas? 

Keberhasilan berawal dari niat,  usaha, kemauan, kerja keras dan itu semua bersumber dari jiwa atau keinginan dari nurani yang paling dalam.  Meronta-ronta untuk mendapatkan udara, berlari kencang untuk menyentuh finish, bersaing ketat untuk menang. Apa yang ada di rongga mata dan jiwa adalah podium, sebagai udara, dan untuk mendapatkannya perlu usaha ekstra keras. 

Perbuatan Socrates itu adalah perwujudan dari falsafah hidup, merupakan kesadaran tentang alammaujud yang merupakan hakikat ilmu yang menjadi penuntun untuk pelaksanaan atas pemahaman yang menjadi keyakinan per orangan maupun kelompok.  

Sean, kelahiran 1 November 1996, yang mulai mengenal kendaraan bermotor sejak usia delapan tahun, merupakan sosok utuh seorang pebalap. Ia replika para juara lainnya yang mengawali kiprahnya di dunia otomotif sejak usia amat dini. Pada usia 10 tahun tampil sebagai juara nasional navigator reli mobil dan mendapat penghargaan MURI dunia, tentu merupakan hal fantastis. 

Dalam lirik rap F3 Carnival karangan Sean, putera Ricardo Gelael dan Rini S Bono, mengatakan, 

//What’s my mission?// Been drawing racing cars with a can of crayon// Found out my passion, settin' big ambitions// Flamin' the pistons in the top step of the podium with two blondes// ....You wanna mess with a racing driver who survives//...It's Sean GP and KFC and all y'all see me flee//. 

Larik dari lirik lagu ini adalah “misi”, “niat”, “ambisi” untuk melangkah ke podium dan para pengamat akan melihat ia bersama anggota tim “Jagonya Ayam” itu akan melayang cepat ke angkasa. Ini adalah puisi sebagai sentuhan dari bawah sadar untuk meraih kemenangan. Ini adalah inti “Heading to the top”.  Ini adalah udara segar Socrates sebagai kebutuhan utama dalam kehidupan. 

Bagaimana dengan rekan setimnya Tom Blomqvist dari Inggris, kelahiran 30 November 1993 – urutan ketujuh pada musim lomba F3 Eropa 2013?

Tom, putera mantan pereli mobil Stiq Blomqvist itu mengatakan, “Kesuksesan berasal karena kita melakukan apa yang kita sukai dan sadar hal itu merupakan yang terbaik dalam bidang kehidupan kita”.    Ia mengutip ungkapan Brian Tracy, gubernur Kalifornia pada 2003, dan frasa itu tercantum dalam halaman depan laman resminya. 

“Saya mengawali karir saya dari naik mobil-mobilan dari plastik, kemudian naik sepeda, dilanjutkan naik karting dan terus berlanjut ke single-seaters. Sepanjang hidup, saya berhubungan dengan roda! Ini merupakan kegairahan saya. Ini bukan tentang kebutuhan kecepatan di lintasan, tetapi semuanya tentang keinginan untuk sukses dalam olahraga paling mencekam di planet ini,” katanya dalam lamannya. 

Rekan setim lainnya, Antonio Giovinazzi, kelahiran Martina Franca, Taranto, Italia, 14 Desember 1993, yang sudah lama berteman dengan Sean – sejak dari perlombaan karting Eropa 2011, kelihatannya lahir untuk jadi pebalap.

“Pertama kali saya memegang stir kendaraan bermotor ketika saya berusia tiga tahuh tahun. Ayah saya membelikan karting untuk anak-anak dan saya mengendarainya di pekarangan rumah. Tapi untuk berlomba saya harus menunggu hingga berusia tujuh tahun. Sejak itu saya komit memilih balapan sebagai sekolah kedua saya. Dan saya tidak gagal dalam kedua bidang itu,” kata Antonio. 

Apa kata Antonio menyambut musim 2014?

“Kami bertiga berlaga dalam tim besar dan ini amat fantastis. Saya sudah lama bekerja sama  dengan Sean sejak lomba karting dan Formula Pilota. Kami sudah saling mengetahui dan belajar bersama.  Sekarang ada Tom, rekan baru kami. Rasanya menakjubkan karena saya dan Sean dapat belajar dari pebalap yang lebih berpengalaman dalam lomba Formula 3,” katanya. 

“Kami bertiga dalam tim Jagonya Ayam with Carlin harus mampu berbuat lebih baik dan menghasilkan akhir perlombaan yang bagus bagi tim kami,” kata Antonio. 

 Sean Gelael, Antonio Giovinazzi dan Tom Bloqvist, akan bertarung pada kejuaran musim 2014, dalam 11 putaran Kejuaraan FIA Eropa, tiga lomba British F3, satu kejuaraan F3 Master di Zandvoort dan satu kejuaraan Macau GP pada akhir tahun. Mereka diperhitungkan akan berlaga dalam 48 race pada 2014.  

Ketiganya berjuang membela timnya, membela nama negara dan bangsa, dan seperti diingatkan ahli strateri perang China kuno Sun Tzu dalam The Art of War, bahwa kemenangan diraih bukan dengan menaikkan kekurangan, tetapi menyempurnakan kekuatan.

Masih ada tuntunan penting dari Sun Tzu, yaitu, “Bila Anda mengenal lawan Anda, Anda tidak perlu khawatir dengan hasil ratusan pertempuran. Bila Anda mengenal diri Anda sendiri dan tidak mengenal lawan Anda, setiap kemenangan yang Anda peroleh juga seperti mengalami kekalahan. Bila Anda tidak tahu siapa diri Anda dan diri lawan Anda, maka Anda akan selalu kalah dalam tiap pertarungan.” 

Di atas semua filosofi  itu, tentu yang paling penting adalah “udara Socrates”, karena itu sebagai sumber kehidupan, merupakan podium lomba yang harus digapai dengan cara amat keras dan bersungguh-sungguh. 

Sean, Antonio, Tom, selamat berlomba, selamat berjuang dengan semangat membuncah di dalam dada. 

                                                                                -oOo-

share :
Berita Dilihat Sebanyak 2839 kali
Berita Lainnya

Foto
Fia WEC
27/09/2026
» 6 Hours of Fuji di Jepang 2026
- Japan